
JAKARTA – Ransomware menjadi momok menakutkan dalam era digital. Gadget lunak jahat ini menyandera data dengan cara mengenkripsi file atau mengunci sistem operasi, lalu menuntut tebusan agar korban bisa saja mendapatkan kembali akses ke data mereka.
Dua Jenis Utama Ransomware:
– Ransomware locker: Mempengaruhi fungsi dasar komputer, mengunci akses ke sistem operasi.
– Ransomware crypto: Mengenkripsi file individual, membuatnya tak dapat diakses tanpa kunci dekripsi.
Ransomware 3.0: Ransomware-as-a-Service (RaaS)
Tren Ransomware 3.0 menandai evolusi baru di ancaman ransomware. Munculnya Ransomware-as-a-Service (RaaS) memudahkan pelaku kejahatan siber, bahkan yang tersebut mempunyai kemampuan teknis rendah, untuk melancarkan serangan ransomware.
“Oleh lantaran itu, hal ini membuka banyak kemungkinan bagi pelaku kejahatan siber untuk menyebabkan serangan merek tambahan efektif, dikarenakan memungkinkan untuk mengkonfigurasi opsi penyebaran jaringan serta fungsi penghentian pertahanan. Hal ini menjadi lebih banyak berbahaya jikalau penyerang miliki kredensial istimewa yang valid pada infrastruktur yang digunakan ditargetkan,” komentar Yeo Siang Tiong, General Manager untuk Asia Tenggara pada Kaspersky.
Indonesia: Target Utama Serangan Ransomware dalam Asia Tenggara
Data dari Kaspersky mengungkapkan bahwa Indonesia menjadi target utama serangan ransomware di area Asia Tenggara. Dari Januari hingga Juni 2024, Kaspersky mendeteksi 57.571 serangan ransomware yang tersebut berusaha mencapai perusahaan pada Asia Tenggara, dengan 32.803 insiden terjadi pada Indonesia.
Siapa Saja yang tersebut Rentan Terkena Serangan?
Semua organisasi, baik besar maupun kecil, rentan terkena serangan ransomware. Namun, sektor-sektor kritikal seperti pemerintahan, keuangan, kesehatan, serta institusi belajar menjadi target utama sebab menyimpan data sensitif kemudian krusial.
Bagaimana Organisasi di dalam Indonesia Dapat Melindungi Diri?
Berikut beberapa rekomendasi dari Kaspersky untuk melindungi organisasi dari serangan ransomware:
1. Amankan layanan remote desktop: Jangan mengekspos layanan desktop/manajemen jarak sangat jauh (seperti RDP, MSSQL, dll.) ke jaringan umum lalu setiap saat gunakan kata sandi yang mana kuat, autentikasi dua faktor, dan juga firewall.
2. Perbarui perangkat lunak: Pastikan semua perangkat lunak setiap saat diperbarui ke versi terbaru untuk menambal kerentanan keamanan.
3. Tingkatkan deteksi ancaman: Fokus pada pendeteksian pergerakan lateral lalu penyelundupan data ke internet.
4. Cadangkan data secara berkala: Lakukan pencadangan data secara teratur, termasuk pencadangan offline, lalu pastikan Anda dapat mengaksesnya dengan cepat ketika dibutuhkan.
5. Kelola akses serta rantai pasokan: Lakukan penilaian lalu audit rantai pasokan lalu kelola akses layanan ke lingkungan Anda.
6. Siapkan rencana tindakan: Miliki rencana tindakan untuk mengendalikan risiko reputasi jikalau terjadi pencurian data.
7. Bangun pusat operasi keamanan (SOC): Gunakan alat SIEM (manajemen informasi lalu insiden keamanan).
8. Manfaatkan Threat Intelligence: Gunakan informasi Threat Intelligence terbaru dari untuk mengetahui taktik, teknik, dan juga prosedur (TTP) yang mana digunakan oleh pelaku ancaman.
Baca Juga: Indonesia Jadi Target Utama Serangan Ransomware pada Asia Tenggara
9. Edukasi karyawan: Berikan edukasi lalu pelatihan keamanan siber terhadap karyawan untuk meningkatkan kesadaran dan juga kewaspadaan merekan terhadap ancamanransomware.






