
JAKARTA – Indonesia secara resmi bergabung sebagai anggota ke-10 kelompok dunia usaha BRICS , sebuah kelompok ekonomi negera tumbuh terdepan yang tersebut memegang peranan penting pada perekonomian global yang tersebut anggota utamanya terdiri dari Brazil, Rusia, India, China, juga Afrika Selatan.
Bergabungnya Indonesia dengan BRICS diperkirakan akan memberikan banyak khasiat bagi Indonesia dalam bidang ekonomi, perdagangan, stabilitas mata uang, hingga diplomasi internasional.
Duta Besar Indonesia untuk Rusia, Jose Antonio Morato Tavares menjelaskan, berbagai faedah sekaligus tantangan yang digunakan dapat diraih Indonesia dari keanggotaan ini, khususnya di bidang kegiatan ekonomi lalu geopolitik. Menurutnya, BRICS menawarkan kesempatan besar untuk meningkatkan kekuatan perdagangan kemudian bursa Indonesia.
“Saat ini, 62% dari total produksi kelapa sawit Indonesia diimpor oleh negara-negara anggota BRICS. Dengan populasi BRICS yang dimaksud mencapai 45% populasi dunia, sekitar 900 jt orang, keanggotaan ini memberikan akses bursa yang dimaksud besar juga memperlancar perdagangan di dalam antara anggotanya,” tutur Jose di diskusi umum bertajuk “BRICS: Menakar Langkah Indonesia” yang dijalankan Ikatan Alumni Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran (IKAHI Unpad) di area Jakarta.
Jose juga menyoroti kekuatan ekonomi BRICS yang tersebut mencapai 35% dari Sistem Domestik Bruto (GDP) dunia berdasarkan purchasing power parity (daya beli masyarakat), tambahan tinggi dibandingkan G7 yang digunakan hanya saja 30%. Meski demikian, ia mengingatkan perlunya kewaspadaan menghadapi tantangan ekonomi global yang dimaksud pada waktu ini lesu.
Dalam konteks geopolitik, Indonesia berpotensi menjadi jembatan penghubung antara BRICS lalu Organisasi untuk Kerja Sama lalu Pembangunan Sektor Bisnis (OECD), yang mana didominasi negara-negara Barat. Indonesia telah lama melamar menjadi anggota OECD pada 2024, tetapi keanggotaan yang dimaksud belum disetujui.
Dengan kebijakan pemerintah luar negeri yang tersebut bebas aktif, Indonesia menekankan bahwa khasiat dari BRICS bersifat ekonomi, tanpa mengubah kedudukan politiknya. “Jembatan ini efektif sebab tempat urusan politik luar negeri kita yang digunakan bebas aktif,” ujar Jose.
Sementara, Asisten Deputi Stabilisasi Harga Kementerian Koordinator Pangan, Siradj Parwito, menggalang langkah Indonesia bergabung ke BRICS. Dia menyampaikan New Development Bank (NDB), bank pengerjaan milik BRICS—sebagai sumber alternatif pembiayaan untuk proyek-proyek konstruksi Indonesia.
“Dana NDB dapat digunakan untuk mendanai proyek-proyek berisiko tinggi yang sulit menarik minat pemodal swasta, seperti proyek energi geotermal. Kata kuncinya adalah bankable. Dengan pendanaan ini, proyek-proyek kita yang mana berisiko tinggi dapat direstrukturisasi agar lebih banyak menarik bagi investor,” pungkasnya.






