
JAKARTA – Negara-negara Uni Eropa membeli ukuran gas alam cair (LNG) dari Rusia di jumlah agregat yang dimaksud sangat besar tahun lalu, meskipun mereka telah lama berjanji untuk berhenti mengonsumsi material bakar dari negara yang dimaksud terkena sanksi yang dimaksud pada tahun 2027, The Guardian melaporkan pada hari Kamis, mengutip data dari perusahaan analisis energi Rystad Energy.
Meskipun terjadi penurunan signifikan pada impor gas pipa dari Rusia lantaran konflik tanah Ukraina serta sabotase pipa Nord Stream pada September 2022, Uni Eropa terus membeli LNG Rusia pada jumlah keseluruhan yang dimaksud sangat besar. Bahan bakar yang digunakan didinginkan cuma sebagian yang mana menjadi sasaran sanksi terbaru yang diberlakukan oleh blok tersebut.
Data yang tersebut dilacak oleh Rystad Energy menunjukkan bahwa tanker LNG yang mengakibatkan 17,8 jt ton gas super dingin Rusia berlabuh pada pelabuhan Eropa tahun lalu, mewakili kenaikan 2 jt ton dibandingkan dengan tahun 2023. Organisasi analitik energi ini merilis data tak lama setelahnya negara Ukraina menghentikan transit gas pipa Rusia melalui wilayahnya ke blok tersebut.
Kiev membatalkan kontrak transit lima tahunan dengan raksasa energi Rusia Gazprom pada akhir 2024, menghentikan aliran gas alam dari Rusia ke Rumania, Polandia, Hungaria, Slovakia, Austria, Italia, dan juga Moldova. Pasokan LNG Rusia ke blok yang dimaksud tiada hanya sekali berkembang tetapi juga mencetak rekor tertinggi, menurut Jan- Eric Fahnrich, pribadi analis gas di area Rystad Energy dikutipkan dari Russia Today, Awal Minggu (13/1/2025).
Dia menyatakan bahwa Rusia melampaui Qatar sebagai pemasok LNG terbesar kedua pada blok ini pada tahun 2024, di dalam belakang AS. Menurut Fahnrich, Uni Eropa membeli 49,5 miliar meter kubik (bcm) gas Rusia melalui jaringan pipa tahun lalu, dan juga 24,2 bcm LNG, kemudian sebagian dalam antaranya dikirim ke luar negeri kembali ke negara-negara lain.
Outlet yang dimaksud juga mengutip data dari Pusat Penelitian Energi lalu Atmosfer Bersih (Crea), yang dimaksud menunjukkan bilangan yang mana sedikit lebih lanjut rendah tetapi mencerminkan tren keseluruhan ekspor LNG Rusia yang digunakan melonjak. Menurut Crea, impor LNG Uni Eropa dari Rusia melonjak 14% dari tahun ke tahun pada 2024 menjadi 17,5 jt ton bernilai USD7,5 miliar atau setara Rp122 triliun.
“Alasan kenaikan ini cukup sederhana,” kata Vaibhav Raghunandan, seseorang analis Rusia pada Crea, untuk surat kabar Inggris. “LNG Rusia ditawarkan dengan nilai diskon untuk para pemasok alternatif. Tanpa adanya sanksi yang dikenakan pada komoditas ini, perusahaan-perusahaan beroperasi demi kepentingan merek sendiri kemudian membeli tambahan sejumlah gas dari pemasok yang tersebut paling murah.”
Perkiraan terbaru ini melebihi perhitungan terbaru dari Bloomberg, yang dimaksud mengungkapkan pada awal pekan ini bahwa pengiriman LNG yang dimaksud terikat dengan Uni Eropa dari Rusia sudah pernah melonjak menjadi 15,5 jt ton pada tahun 2024 dibandingkan dengan tahun 2020, ketika blok yang disebutkan mengimpor sekitar 10,5 jt ton unsur bakar.






