
JAKARTA – Wakil Ketua S&P Global Daniel Yergin menilai perekonomian globalmemasuki masa-masa yang dimaksud berbahaya yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat meningkatnya ketegangan di dalam Timur Tengah. Memanasnya kondisi di tempat wilayah itu dapat menyebabkan guncangan juga meninggikan nilai energi global.
Sejak konflik Israel-Hamas dimulai pada 7 Oktober tahun lalu, lingkungan ekonomi minyak semata-mata mengalami sedikit gangguan, dengan harga jual tetap memperlihatkan tertekan sebagai akibat dari peningkatan produksi Amerika Serikat dan juga melemahnya permintaan dari China. Namun, sentimen ini sudah berubah dimana nilai minyak melonjak minggu lalu akibat perasaan khawatir bahwa negeri Israel dapat memiliki target bidang minyak Iran sebagai balasan menghadapi serangan rudal Iran.
“Israel belum menyimpulkan apa yang dimaksud akan merekan lakukan pada hal serangan — itu masih di pembahasan,” kata Presiden Negeri Paman Sam Joe Biden terhadap wartawan di jumpa pers di tempat Gedung Putih minggu lalu, seraya menambahkan bahwa ia mengurangi negeri Israel menyerang sarana minyak Iran.
Minggu lalu, patokan minyak dunia mengalami kenaikan mingguan terbesar sejak Maret 2023. Selama perdagangan Asia pada hari Selasa, nilai tukar patokan minyak global Brent merosot 1,77% menjadi USD79,50 per barel, sementara West Texas Intermediate Amerika Serikat diperdagangkan 1,83% lebih banyak rendah pada USD75,77 per barel.
Namun, seperti dilansir CNBC, Rabu (9/10/2024), Yergin memperkirakan pembalasan negara Israel tidaklah hanya sekali akan menjadi pengulangan serangan pada April lalu, tetapi sesuatu yang digunakan “jauh tambahan kuat.” Siklus April lalu, Iran serta negeri Israel saling serang, walaupun akhirnya terhindar dari peperangan skala penuh. Iran menembakkan beratus-ratus rudal balistik lalu pesawat nirawak ke negeri Israel sebagai balasan menghadapi serangan terhadap prasarana diplomatik Iran di area Suriah.
Ketika ditanya apakah dunia usaha global berada pada ambang guncangan pasokan lain yang digunakan diakibatkan oleh ketegangan Timur Tengah, Yergin menyatakan ini adalah waktu yang mana genting bagi pasar. “Saya pikir ini adalah waktu yang dimaksud sangat berbahaya, yang mana belum pernah kita lihat,” katanya. Selain itu, meskipun Yergin menyatakan bahwa tidaklah pasti apakah Iran mempunyai senjata nuklir yang tersebut beroperasi, hal itu masih “tentu sekadar masih di latar belakang,” khususnya melalui sudut pandang Israel.
“Pertaruhannya adalah bahwa tanah Israel tak akan menyerang, mencoba menyerang, prasarana nuklir ketika ini. Namun beberapa bulan dari sekarang, beberapa minggu dari sekarang, apa pun itu, Iran akan memiliki kapasitas — diperkirakan — untuk mengirimkan senjata nuklir, juga itu meningkatkan taruhannya,” katanya, menyamakan momen itu dengan Krisis Rudal Kuba tahun 1962.
Meski begitu, tanah Israel sangat jauh lebih tinggi peduli dengan prasarana nuklir Iran daripada lapangan usaha minyak Iran, kata Pavel Molchanov, direktur pelaksana perusahaan jasa pembangunan ekonomi Raymond James. Rencana nuklir Iran telah dilakukan berprogres ke tahap di dalam mana, pada waktu sekitar satu minggu, negara itu berpotensi memperkaya uranium yang dimaksud cukup untuk lima senjata fisi, menurut perkiraan Iran Watch, situs web yang dimaksud diterbitkan oleh Proyek Wisconsin tentang Pengendalian Senjata Nuklir.
“Skenario terburuk adalah sesuatu yang dimaksud dapat diadakan Iran sendiri, yaitu blokade Selat Hormuz. Jadi, ini tidak ada terkait dengan segera dengan serangan udara atau rudal Israel. Selat, yang terletak pada antara Oman juga Iran, merupakan jalur penting tempat sekitar seperlima produksi minyak global mengalir setiap hari, menurut Badan Pengetahuan Energi AS. Ini adalah adalah jalur air strategis yang tersebut menghubungkan produsen minyak mentah di tempat Timur Tengah dengan pangsa utama di tempat seluruh dunia.
Ketidakmampuan minyak untuk melintasi selat, bahkan untuk sementara, dapat meningkatkan biaya pengiriman, menyebabkan keterlambatan pasokan yang digunakan cukup besar, lalu meninggikan nilai tukar energi global. Beberapa pihak memperkirakan bahwa di skenario terburuk, dapat menggerakkan tarif minyak di dalam berhadapan dengan USD100 per barel.






