
Kurang dari tiga tahun yang mana lalu, Billy Dib diberitahu bahwa ia telah terjadi kalah di pertarungan terakhirnya. Kanker ganas menggerogotinya lalu keberadaan mantan juara dunia dua kali ini akan segera berakhir.
Saat itu, satu bulan lagi, atau satu tahun lagi – sanggup jadi merupakan sebuah kemenangan, dan juga itu sangat kecil kemungkinannya. Namun, semua itu akhirnya datang juga, juga dengan neoplasma dalam tubuhnya, Dib memutuskan untuk mengacungkan jari tengahnya dan juga bertarung kembali.
Pada hari Kamis, petinju Australia ini akan kembali ke pada ring untuk mengucapkan selamat tinggal dengan langkah sendiri. Di sini, di tempat Jerman, ia akan melupakan kengerian di beberapa tahun terakhir dan juga mengenakan sarung tinju untuk terakhir kalinya.
“Sejujurnya, ini seperti mimpi yang mana menjadi kenyataan,” katanya, tidaklah dapat menahan senyum di dalam wajahnya.
“Saat saya sakit kemudian bukan sehat, saya teringat duduk dalam rumah sakit juga berpikir, ‘Saya bukan akan pergi dari dari tempat ini. Saya sakit seperti itu. Saya berpikir, ‘Saya tak akan meninggalkan dari sini,’ lalu kemudian paman saya, Angelo, berkata terhadap saya, ‘Suatu hari nanti. Kita akan mulai dengan sedikit berjalan kaki, lalu sedikit jogging. Perlahan tapi pasti, segala sesuatunya mulai membaik. Saya mulai merasa lebih besar baik. Saya mulai merasa seperti manusia lagi. Ketika Anda menjalani kemoterapi, Anda merasa seperti alien. Anda mengalami hal-hal tertentu.”
Tekad Dib sangat kuat, namun kekuatannya mulai kembali. Sebelumnya, ia belaka berani bermimpi untuk selamat dari kanker, namun pada saat ini mimpi lainnya mulai terwujud, lalu itu terjadi pada Konvensi WBC tahun lalu, pada waktu Fight Night organisasi ini berlangsung di area Tashkent, Uzbekistan.
Dib duduk bersatu manajer Robert Diaz – yang dimaksud juga pribadi penyintas karsinoma – juga presiden WBC Mauricio Sulaiman, lalu merekan mengobrol. “Dapatkah Anda bayangkan apabila saya menjalani laga perpisahan?” kenang Dib.
“Jika Anda ingin melakukannya, kita akan melakukannya,” kata Sulaiman.
“Bisakah Anda bayangkan? Itu akan sulit dipercaya,” kata Dib.
“Saya pulang ke rumah, mulai melakukan sedikit latihan pada sana-sini kemudian mengakumulasi kelompok saya kembali, berlatih, mulai merasa nyaman, lalu saya menelepon Maurico dan juga berkata, ‘Dengar, apakah Anda penting dengan hal ini? Karena jikalau ya, saya mulai merasa baik-baik saja.”






